About



WAHYUDDIN. Itu nama yg diberikan oleh orang tuaku. Cukup singkat. Teman-teman biasa memanggilku WAHYU, tapi ada juga yang menyebutku UDIN, dan tidak sedikit yang menamaiku YUDI. Lahir di sebuah kelurahan kecil bernama Kelurahan Doping. Nama kelurahan yang aneh menurut sebagian orang. Letaknya kurang lebih 250 km sebelah utara Kota Makassar, ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan. Iklimnya cukup panas mengingat lokasinya yang dekat dari laut. Tetapi meskipun lokasinya dekat laut, aku tidak seperti ’anak laut’ umumnya yang pandai berenang karena aku baru bisa berenang setelah usiaku menginjak 21 tahun.

Aku terlahir dari sebuah keluarga sederhana sebagai anak ke-5 dari 7 bersaudara. Menurut yg tertulis di ijazah dan dokumen lainnya, aku dilahirkan pada tanggal 15 Mei 1983, padahal menurut catatan orang tuaku aku dilahirkan tanggal 06 Juli 1983. Tolong jangan tanya tentang Akta Kelahiran karena pada waktu itu ’Orang Kampung’ belum mengenal istilah Akta Kelahiran. Tanggal lahir biasanya dicatat di salah satu tiang rumah yang terbuat dari kayu. Nah ketika tiang itu lapuk dan harus diganti, otomatis catatan tanggal lahir yang tertulis di sana akan ikut hilang. Ah, namanya juga orang kampung.

Masa kecil yang bahagia kuhabiskan di kampung. TK dan SD kuselesaikan di kampungku tercinta, di TK PGRI Doping dan SDN 230 Doping. Untuk ukuran ‘orang kampung’ aku bisa dianggap cukup berprestasi karena dari kelas 1 sampai kelas 6 SD aku tidak pernah ‘lengser’ dari peringkat I. Masa SMP aku habiskan di SMPN 1 Majauleng yg lokasinya sekitar 14 km dari rumah. Meskipun di kampungku sudah ada SMP, orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk bersekolah di sana dengan alasan SMP itu kurang berkualitas. Alhamdulillah, meskipun pendidikan mereka masih ‘rendah’ seperti umumnya orang di kampungku, kesadaran akan pendidikan yang berkualitas sudah mulai tumbuh. Jarak sekolah yang cukup jauh membuat aku hampir setiap hari terlambat tiba di sekolah. Maklum angkutan umum di kampungku jumlahnya masih sangat terbatas waktu itu. Teguran dari guru karena datang terlambat bukan sesuatu yang aneh lagi buatku. Dan ketika musim ujian tiba aku harus naik sepeda ke sekolah supaya tidak terlambat.

Setamat SMP aku melanjutkan pendidikan di SMUN 5 Makassar. Awalnya aku merasa seolah bermimpi karena tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau aku bakal merasakan tinggal di Kota Makassar, jauh dari keluarga, tinggal di rumah kost, mengerjakan semuanya sendiri. Tapi lagi-lagi karena pertimbangan pendidikan yang lebih berkualitas aku berusaha menjalani semuanya. Sebagai seorang ’anak kampung’ yang masuk kota, awalnya aku cukup kerepotan harus bergaul dengan anak-anak kota. Prestasiku sempat anjlok selama 1 catur wulan. Di catur wulan selanjutnya aku sudah mulai bisa menyesuaikan diri dan meraih kembali prestasi yang sempat terlepas. Ketika naik kelas 3 aku menjadi utusan sekolahku untuk mengikuti pendidikan di Kelas 3 Khusus BPG Makassar yang merupakan kelas gabungan SMU se-Sulawesi Selatan. Senang rasanya bisa menikmati pendidikan gratis plus guru-guru pilihan.

Selepas SMU aku mencoba mengikuti UMPTN, mendaftar USM STAN, sekaligus mengirimkan lamaran untuk mengikuti pendidikan Diploma III di BCA. Karena pesimis dengan hasil ujian yang menurutku kurang memuaskan, aku jadi tidak semangat lagi untuk menunggu hasilnya. Terdorong oleh perasaaan malu akan menjadi pengangguran, aku kemudian mengirimkan lamaran kerja ke beberapa perusahaan. Sedihnya tidak satu pun lamaran yang aku kirimkan mendapat respon. Akan tetapi kesedihan itu tidak berkepanjangan karena ketika pengumuman UMPTN ternyata aku lulus di Jurusan Akuntansi Universitas Hasanuddin. Begitu pun ketika pengumuman hasil USM STAN ternyata aku diterima sebagai calon mahasiswa Program Diploma I Keuangan Spesialisasi Kepabeanan dan Cukai. Dan dalam jangka waktu yang hampir bersamaan aku juga mendapat panggilan interview pendidikan Diploma III di BCA. Senang sekaligus bingung. Bingung menentukan pilihan. Atas saran dari keluarga, akhirnya aku memutuskan untuk menjadi mahasiswa Prodip I Kepabeanan dan Cukai dengan pertimbangan bahwa aku akan lebih cepat bekerja yang berarti akan mengurangi beban orang tua.

Sekarang aku sudah bekerja dan sejak beberapa tahun terakhir –sejak 14 Agustus 2003– harus ’mengungsi’ ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan. Jakarta, kota yang selama ini hanya ada di dalam bayanganku. Sebagai ’anak kampung’ aku tidak pernah bermimpi akan menginjakkan kaki di kota ini. Ah, lagi-lagi harus jauh dari keluarga. Tetapi tidak masalah, toh aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Darah Bugis yang –kata orang– berjiwa perantau sepertinya masih aku warisi. Jiwa perantau yang membuat aku dan enam saudaraku yang lain merasa baik-baik saja ketika harus tinggal terpisah di daerah yang berbeda dan meninggalkan kedua orang tua di kampung tanpa ada satu pun anaknya yang menemani. Padahal aku yakin di usia mereka yang semakin senja mereka akan sangat merindukan kehadiran anak-cucu di sisi mereka. Tapi apa boleh buat. Inilah hidup. Semua telah digariskan oleh-Nya. Yang perlu dilakukan hanyalah memanfaatkan sisa umur yg diberikan-Nya dengan senantiasa melakukan yang terbaik selagi kesempatan itu masih ada.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

clock

Calendar

« August 2008 »
Su Mo Tu We Th Fr Sa
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            

recent post

Shoutbox

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

It's Mine

Friendster
PhotoBucket

Categories

Archives

Recent Comments

Links

Sahabat

Sites and Communities


BlogFam Community
banner angingmammiri

Visitors since Nov 2006

Hit Counter
Online Universities Online Users

Blog Statistics

PageRank

Check Page Ranking

Syndicate

Thanks to

Free Shoutbox Technology Pioneer